Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :
img
Home / Gangguan Kehamilan / Plasenta Previa

Plasenta Previa

/
/
241 Views

Beberapa ibu hamil mungkin belum pernah mendengar tentang plasenta previa, padahal plasenta previa merupakan salah satu gangguan kehamilan yang perlu diwaspadai.

Plasenta previa adalah suatu kondisi dimana posisi plasenta terlalu ke bawah sehingga menyebabkan tertutupnya jalan lahir, baik sebagian maupun keseluruhan.

Plasenta previa juga dapat menimbulkan terjadinya pendarahan yang berkali-kali, baik pada saat kehamilan maupun ketika persalinan terjadi.

Plasenta adalah salah satu organ yang terbentuk ketika terjadi kehamilan. Plasenta menghubungkan tali pusar ibu dengan janin atau bayi.

Plasenta mempunyai beberapa fungsi, yakni:

  • Menyalurkan nutrisi ke dalam janin
  • Membuang sisa metabolisme janin
  • Menyuplai oksigen ke dalam janin
  • Melakukan produksi hormon untuk mempertahankan janin

Namun fungsi dari plasenta tersebut akan berubah jika terjadi plasenta previa.

Bagi ibu hamil, sangat penting untuk selalu mengetahui kondisi terbaru dari janin yang ada di dalam kandungannya untuk mencegah berbagai hal yang tidak diinginkan seperti plasenta previa.

Jenis plasenta previa

Plasenta bayi
Plasenta bayi

Plasenta previa sendiri terbagi dalam beberapa macam. Terdapat 3 macam plasenta previa sesuai dengan kondisi dan letak plasenta seperti di bawah ini:

  • Plasenta previa lateralis

Plasenta previa lateralis memiliki kondisi dimana plasenta berada di bawah dekat leher rahim, namun tidak menutupi jalan lahir.

  • Plasenta previa parsialis

Plasenta previa parsialis memiliki kondisi dimana plasenta berada di bawah dekat leher rahim dan menutupi sebagian jalan lahir.

  • Plasenta previa totalis

Plasenta previa totalis memiliki kondisi dimana plasenta berada di bawah dekat leher rahim dan menutupi seluruh jalan lahir.

Gejala plasenta previa

Plasenta previa bisa dialami oleh ibu hamil manapun. Adapun beberapa gejala dari plasenta previa yang biasa dirasakan oleh ibu hamil adalah sebagai berikut:

  • Pendarahan yang tidak menimbulkan rasa nyeri
  • Pendarahan terjadi secara berulang
  • Darah yang keluar masih sangat segar
  • Pendarahan terjadi secara perlahan dan tidak dalam jumlah banyak
  • Anemia akibat pendarahan terus menerus
  • Ketika rahim diraba, tidak ada kontraksi
  • Ibu hamil dapat mengalami syok, lemas, dan lesu
  • Akan menimbulkan rasa sakit pada vagna jika dibiarkan terlalu lama

Penyebab plasenta previa

Gambar plasenta bayi dalam kandungan
Gambar plasenta bayi dalam kandungan

Plasenta previa biasanya terjadi pada 1 dari 200 kehamilan. Meskipun jarang terjadi, namun ibu hamil tetap harus mewaspadai kemungkinan terjadinya plasenta previa.

Berikut ini adalah beberapa penyebab terjadinya plasenta previa:

1. Bentuk rahim yang tidak normal

Beberapa bentuk rahim tidak pada posisinya yang tepat sehingga ketika terjadi pembuahan dan perkembangan embrio, plasenta pun tumbuh pada posisi yang tidak seharusnya.

2. Riwayat plasenta previa

Ibu hamil yang pernah mengalami plasenta previa pada kehamilan sebelumnya kemungkinan juga akan mengalami plasenta previa kembali. Maka dari itu, sangat penting untuk selalu berkonsultasi pada dokter mengenai perkembangan janin jika ibu hamil pernah mengalami plasenta previa.

3. Riwayat kuret

Ibu hamil yang pernah melakukan kuret, baik akibat keguguran atau untuk pengangkatan miom biasanya juga lebih beresiko terkena plasenta previa. Hal ini diakibatkan adanya bekas luka dari kuret tersebut.

4. Riwayat kehamilan kembar

Ibu hamil yang mempunyai riwayat kehamilan kembar memiliki resiko lebih besar terkena plasenta previa dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki riwayat hamil kembar.

5. Merokok

Wanita yang merokok memang mempunyai banyak masalah kesehatan, apalagi jika dalam kondisi hamil. Ibu hamil yang tetap merokok selama kehamilan akan sangat rentan terkena berbagai gangguan kehamilan, termasuk plasenta previa.

6. Kokain

Wanita hamil yang menggunakan kokain akan memiliki resiko lebih besar mengalami plasenta previa dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan kokain.

Cara mencegah plasenta previa

Plasenta previa dapat terjadi pada siapa saja, namun juga bisa dicegah dengan berbagai cara. Berikut ini adalah beberapa cara mencegah plasenta previa:

1. Tidak merokok dan minum alkohol

Ibu hamil yang merokok dan minum alkohol lebih rentan terkena plasenta previa, maka dari itu disarankan untuk tidak merokok atau minum alkohol selama masa kehamilan. Konsultasikan dengan ahlinya untuk mendapatkan terapi agar berhenti merokok.

2. Memenuhi asupan nutrisi harian

Penuhi kebutuhan nutrisi harian agar perkembangan janin berjalan dengan optimal dan rahim pun selalu dalam keadaan sehat dan kuat.

3. Melakukan perawatan pasca kuret

Jika ingin memiliki keturunan atau berencana untuk hamil lagi, maka pastikan untuk selalu melakukan perawatan pasca kuret. Perawatan pasca kuret sangat penting dilakukan secara rutin agar rahim siap untuk kembali diisi dengan janin yang baru.

4. Lakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin

Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, sebaiknya lakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin untuk mengetahui kondisi terkini dari janin.

Cara mengatasi plasenta previa

Plasenta previa sebaiknya segera ditangani sedini mungkin jika telah diketahui. Pendarahan yang terus menerus pada ibu hamil dapat menyebabkan infeksi sehingga harus segera dihentikan.

Penanganan pada plasenta previa sendiri dilakukan sesuai dengan kondisi yang terjadi pada ibu hamil. Dokter akan memeriksa usia kehamilan, jumlah darah yang keluar, hingga posisi bayi dalam rahim.

Berikut ini adalah 3 cara mengatasi plasenta previa yang bisa dilakukan oleh dokter:

1. Perawatan konservatif

Perawatan konservatif adalah penanganan pada plasenta previa dengan cara berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kehamilan hingga usia maksimal. Perawatan konservatif ini dilakuakn dengan cara sebagai berikut:

  • Memberikan istirahat senyaman mungkin bagi ibu hamil
  • Mengurangi kontraksi uterus dengan memberikan kotolitik
  • Mengatasi kekurangan darah pada ibu hamil dengan memberikan hematinik
  • Melakukan pemeriksaan darah
  • Melakukan pemeriksaan USG
  • Memberikan antibipotik untuk mencegah terjadinya infeksi

Namun perlu diketahui bahwa perawatan konservatif hanya dilakukan jika ibu hamil memenuhi syarat seperti di bawah ini:

  • Usia kehamilan belum cukup
  • Pendarahan masih sangat sedikit
  • Jarak rumah dan rumah sakit yang cukup dekat

Jika setelah 3 hari melakukan perawatan konservatif pendarahan telah berhenti, maka ibu hamil diperbolehkan pulang namun dengan syarat melakukan rawat jalan untuk terus memantau kondisi rahim.

2. Persalinan pervaginam

Perawatan pervaginam adalah cara mengatasi plasenta previa dengan cara melakukan persalinan normal.

Namun cara ini hanya bisa dilakukan pada plasenta previa marginalis, plasenta previa marginalis, dan plasenta previa lateralis dengan pembukaan 4 cm.

Adapun beberapa syarat dalam melakukan perawtaan pervaginam ini adalah sebagai berikut:

  • Janin yang dikandung telah meninggal
  • Usia kehamilan sudah cukup
  • Pendarahan yang banyak

3. Persalinan perabdominal

Persalinan perabdominal adalah cara mengatasi plasenta previa dengan cara persalinan melalui operasi caesar. Persalinan perabdominal akan dilakukan jika ibu hamil mengalami beberapa kondisi seperti di bawah ini:

  • Pendarahan yang hebat dan tidak berhenti
  • Plasenta previa total
  • Plasenta previa lateralis dengan pembukaan kurang dari 4 cm
  • Kondisi janin yang tidak normal
  • Panggul ibu hamil yang sempit

Itulah beberapa cara dalam menangani plasenta previa. Plasenta previa dapat membahayakan nyawa ibu hamil maupun bayi di dalam kandungan, maka dari itu ibu hamil harus segera melakukan konsultasi ke dokter kandungan untuk mengetahui secara pasti mengenai kondisi kehamilannya jika terdapat kondisi yang dicurigai.

Sumber: