Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :
img
Home / Kehamilan / Mungkinkah Hamil Lagi saat Menopause, Apa Berbahaya?

Mungkinkah Hamil Lagi saat Menopause, Apa Berbahaya?

/
/
133 Views

Saat sudah masuk fase lanjut usia maka setiap wanita pasti akan mengalami menopause. Menopause berarti bahwa tubuh wanita sudah tidak subur, yang berarti wanita tidak akan hamil lagi.

Mengapa tidak hamil setelah memasuki masa menopause? karena di saat itu wanita sudah berhenti menstruasi. Artinya tidak ada lagi sel telur matang yang diproduksi tubuh.

Tapi dari beberapa kasus diketahui ada wanita menopause yang hamil dan bahkan sampai melahirkan anaknya.

Tentu saja ini adalah bahan diskusi yang menarik dan di artikel pengenhamil.com kali ini kita akan membahasnya secara tuntas.

Bisa Atau Tidak Hamil Setelah Menopause?

Secara medis, wanita tidak mungkin bisa hamil setelah masuk masa menopause.

Jika ada wanita yang hamil di masa menopuase maka kemungkinan besar yang terjadi adalah wanita tersebut baru masuk masa perimenopause.

Saat mengalami perimenopause maka wanita bisa tetap haid. Hanya saja tanggal haid menjadi tidak teratur.

Terkadang haid datang hanya 1 atau 2 hari saja. Kemudian dalam waktu lama tidak haid sama sekali, tapi berapa bulan kemudian haid lagi.

Saat itu ovulasi dalam tubuh tetap terjadi sehingga ada peluang hamil.

Masa perimenopause sebenarnya terjadi selama 1 atau 2 tahun sebelum benar-benar terjadi menopause, saat dimana tubuh wanita sudah tidak menghasilkan hormon estrogen sehingga tidak ada lagi sel telur dari indung telur.

Meskipun kadar estrogen menurun selama masa perimenopause, tapi kesuburan tetap ada. Hanya saja tingkat kesuburan juga menurun dan akhirnya potensi kehamilan sangat kecil.

Jadi intinya kehamilan bisa terjadi ketika sudah masuk masa perimenopause dan belum terjadi menopause.

Syarat Kehamilan dan Menopause

Kehamilan dan menopause adalah sebuah hubungan yang berlawanan. Kehamilan tidak mungkin terjadi ketika sudah mengalami menopause.

Kemungkinan jika bisa hamil maka itu sudah masuk masa perimenopause. Dengan kondisi tubuh masih memiliki kesuburan namun dalam tingkat yang rendah.

Syarat sebuah kehamilan adalah adanya sel telur yang cukup dengan ukuran yang memenuhi syarat untuk terjadi pembuahan.

Sel telur akan dihasilkan oleh bagian indung telur dengan cara yang alami. Semua terjadi karena pengaruh hormon estrogen, luteinizing, FSH (follicle stimulating hormone) dan progesteron.

Saat sudah masuk masa ovulasi yang diperkirakan dengan perhitungan jumlah hari tidak menstruasi dibagi dua. Kemungkinan ovulasi terjadi pada hari ke 14 setelah menstruasi dihitung dari hari pertama menstruasi.

Saat ovulasi dan terjadi hubungan intim maka sel telur bisa dibuahi oleh sel sperma yang sehat. Sejak itu maka bisa terjadi pembuahan dan wanita tidak akan mengalami menstruasi seperti sebelumnya.

Semakin tua usia maka indung telur tidak akan menghasilkan sel telur matang. Persediaan sel telur bisa habis sehingga tidak mungkin terjadi kehamilan.

Kemudian juga tidak terjadi menstruasi sehingga benar-benar sudah masuk masa menopause. Selama masa menunggu ini maka hormon progesteron dan estrogen akan menurun.

Inilah yang membuat haid menjadi tidak teratur dan masuk masa perimenopause. Saat itu tubuh sesekali mengalami ovulasi meskipun sulit.

Usia wanita mengalami menopause memang berbeda-beda yaitu dimulai sekitar 45 sampai 50 tahun. Meskipun estrogen dan progesteron menurun, tapi kadar hormon luteinizing dan FSH tetap lebih tinggi.

Saat sudah sangat parah maka hormon dalam tubuh menjadi tidak seimbang sehingga tubuh tidak menghasilkan sel telur.

Ini juga yang menyebabkan kondisi menopause tidak mungkin menyebabkan kehamilan. Hanya saja jika hamil bisa terjadi saat masuk waktu perimenopause.

Bahaya Hamil Saat Perimenopause

Bahaya hamil saat menopause
Bahaya hamil saat menopause

Berikut ini beberapa bahaya hamil saat wanita memasuki masa perimenopause:

  1. Risiko diabetes gestasional

Kehamilan yang terjadi saat perimenopause memang terjadi saat usia ibu sudah lebih dari 45 tahun. Pengaruh usia menyebabkan gangguan metabolisme selama hamil yaitu penyakit diabetes gestasional.

Diabetes gestasional sangat berbahaya karena janin juga bisa menderita diabetes. Biasanya kondisi penyakit ini akan memancing komplikasi yang lain.

  1. Risiko hipertensi kehamilan

Ibu hamil dengan usia lebih dari 45 tahun maka juga bisa terkena hipertensi. Hipertensi ini bisa terjadi karena riwayat sebelum hamil sampai dengan pengaruh usia hamil yang terlalu tua.

Hipertensi sangat berbahaya untuk ibu dan janin. Janin bisa sering kurang oksigen sehingga memicu kematian dalam kandungan.

Hipertensi juga bisa mengarah pada preeklampsia dimana ibu bisa menderita beberapa komplikasi kehamilan dengan risiko tinggi.

  1. Risiko plasenta previa

Saat usia hamil sudah tua maka juga bisa memicu komplikasi pada plasenta. Plasenta adalah organ penting yang akan menyampaikan oksigen dan nutrisi dari tubuh ibu ke janin.

Hal yang paling sering terjadi adalah ketika plasenta terlepas sebelum waktu bayi lahir dan menutupi serviks. Dalam istilah medis ini dinamakan plasenta previa.

Risiko kehamilan menjadi sangat luas karena bukan hanya nyawa ibu yang berbahaya tapi juga janin. Ini juga yang menjadi pemicu keguguran sampai kematian janin.

  1. Komplikasi persalinan caesar

Jika ibu sudah berusia lebih dari 40 tahun maka persalinan caesar sangat dianjurkan. Ibu yang sudah terlalu tua tidak memiliki fungsi rahim yang baik untuk menyediakan dorongan dalam persalinan normal.

Tapi karena berbagai kondisi lain seperti preeklampsia, hipertensi atau diabetes gestasional maka operasi caesar juga sangat berbahaya.

Ibu bisa terkena komplikasi selama operasi caesar atau setelah operasi.

  1. Kehamilan ektopik

Kehamilan di luar kandungan atau kehamilan ektopik bisa terjadi pada saat wanita hamil di usia lebih dari 40 tahun. Kehamilan ini terjadi ketika sel telur dan sel sperma berkembang tidak di rahim tapi diluar rahim.

Risiko ini sangat berbahaya karena jaringan embrio yang terus berkembang tidak mungkin bisa bertahan. Jika berkembang di saluran tuba falopi maka bisa membuat tuba falopi pecah.

Ini juga bisa menyebabkan pendarahan dari mulai organ reproduksi dan menyebar sampai ke bagian organ lain. Akibat terburuk dari kehamilan ektopik adalah kematian ibu.

  1. Berat badan lahir rendah

Jika kehamilan bisa bertahan maka biasanya berat badan janin akan sangat rendah. Hal ini dikaitkan dengan masalah kemampuan tubuh ibu memberikan nutrisi untuk janin.

Munculnya morning sickness yang sangat parah juga bisa membuat janin kurang nutrisi. Kemudian bisa membuat janin kekurangan oksigen yang menghambat pertumbuhan.

Masalah berat badan lahir yang sangat rendah bisa sangat buruk karena bayi mungkin tidak bertahan setelah persalinan.

Komplikasi penyakit pada bayi sangat berat sehingga bisa mempengaruhi seumur hidupnya.

  1. Keguguran

Ibu hamil dengan usia yang sudah masuk masa perimenopause sebenarnya sangat berisiko. Semua kondisi ini bisa berhubungan dengan faktor tubuh ibu sendiri dan kondisi janin.

Biasanya ibu akan mengalami keguguran karena janin yang sudah tidak bisa bertahan. Pemicu keguguran lainnya termasuk kelainan janin, cacat janin, dan gangguan kehamilan berat pada ibu.

  1. Kematian ibu dan janin

Dalam kasus yang sangat parah maka kehamilan saat perimenopause bisa menyebabkan kematian pada ibu dan janin. Semua ini bisa terjadi karena masalah komplikasi pada ibu dan janin yang sangat berat.

Adanya beberapa penyakit yang berkembang sebelum dan selama hamil biasanya membuat ibu memiliki kesehatan yang buruk selama hamil.

Dampaknya bisa terjadi pada janin sehingga janin tidak bisa bertahan.

Jadi hamil saat menopause, bisakah dan apa berbahaya? Semua pertanyaan tersebut sudah dijawab dalam uraian di atas. Jadi pertimbangkan lagi ketika Anda ingin hamil tapi sudah masuk usia menopause.

Sumber artikel: